Klik Gambar untuk PESAN & TEMPAH.

Catatan Kampung (1)

(Lenggeng; Julai 1972)

Musim buah.... Aku tertidur sejenak di serambi, di desa, di kampung halaman sendiri. Hari rembang petang. Aku teringat pada waktu kecilku ketika zaman darurat di kampung dahulu. Tokoh/watak yang kita percayai tiba-tiba menghilangkan diri. Timbul tokoh/watak baru, entah dari mana datangnya, sewenang-wenang mengambil tempat dan peranan. Banyak sekali peristiwa yang aneh/ganjil berlaku.

Pada zaman cemas penuh kemelut, peristiwa menjadi cerita; cerita menjadi dongeng; banyak kisah daya-memperdaya, belot-membelot. Kisah darurat, hal yang mustahil, perkara yang tidak disangka-sangka boleh saja menjadi kenyataan. Walaupun kampungku terletak agak jauh dari pekan Broga, dari kawasan serang hendap, tetapi entah bagaimana, aku menjadi anak yang cepat gementar, gugup, dan senantiasa saja dalam ketakutan, dalam igauan.

Aku menjadi anak yang pendiam dan penyepi. Kata-kata amat sulit keluar atau kukeluarkan dari mulutku. Hanya mataku saja yang terbuka, merenung.... Sesuatu yang ngeri sudah berlaku. Mungkin aku telah menyaksikannya. Tetapi apa? Dan bagaimana? Wallahualam. (Sehingga kini, tiga puluh tahun kemudian, peristiwa itu masih merupakan suatu misteri padaku.)

- Catatan, hlm 328.

Puisi Itu Tidak Logik

Puisi itu tiada kena-mengena dengan logika. Puisi berangkat dari suatu realiti kehidupan lalu masuk ke dalam suatu realiti penulisan, suatu realiti hasil ciptaan. Realiti kedua inilah yang dinamai puisi. Dalam keadaan yang segar dan bebas sedemikian, puisi mempunyai ruang-daerah, rasa-warna, suara-nafasnya sendiri yang mungkin saja tidak berupaya ditambat ke suatu bentuk pemikiran bernama rasional atau logika.

Kegiatan Baca Sajak (1975)

Pada mulanya, hanya berupa niat ingin membaca sebuah sajak di dalam sebuah ruang kecil dengan seorang teman. Kemudian, datang teman kepada seorang teman, dan seterusnya beberapa orang peminat.

Kini, orang yang datang untuk mendengar bacaan sajak semakin ramai. Cara membaca sajak pun mula berubah. Suara harus dikeraskan (kasihan orang di bangku belakang sana). Gaya dikemaskinikan. Mulailah anasir/elemen drama itu menyusup masuk. Maka, dicarilah ruang yang lebih besar, sebuah dewan. Maknanya, pembaca sajak kena naik pentas, menggunakan mikrofon; lebih ramai, lebih baik.

Kini, diterima undangan. Acara membaca sajak bertambah rancak. Segalanya menjadi rasmi-rasmian. Dan lihat itu, liputan di surat khabar harian dan mingguan. Wah, ini sudah hebat! Kemudian, datang pula para penaja memberikan sumbangan; baca sana, baca sini.

"Hadirin sekalian, zaman baca sajak sudah berlalu. Kini, deklamasi puisi namanya!"

Untuk menarik penonton yang lebih ramai, dicari pula deklamator undangan. Mengapa tidak para pelakon, para dramatis, penyanyi, malah orang kenamaan? Ini bisa membuat acara meletup! (Tetapi, di mana para penyair handalan kita itu? Kok berada begitu jauh - menanti nombor giliran - jauh nun di belakang sana?)

Nah! Begitulah perkembangan dan loncatannya; selama yang kuamati, kuikuti; daripada kegiatan membaca sebuah sajak dengan tiga orang teman penyair, hinggalah upacara mendeklamasikan sebuah puisi dengan para artis pujaan di hadapan ratusan penonton di tanah air sendiri. Hore!

- Catatan, hlm 145.

Twitter

Follow lamansesawang on Twitter

Rakan Catatan Latiff Mohidin

Catatan yang Lain

Ikut Melalui e-mel

Powered by Blogger.